Search

Memuat...

Jumat, 15 Juli 2011

PENELITIAN VIRUS

Para pakar virologi sudah menegaskan, tidak semua virus jahat dan menyebabkan penyakit. Ada juga virus yang berguna bagi manusia.

Virus termasuk organisme tertua di dunia. Ukurannya amat kecil, sehingga untuk melihatnya harus digunakan mikroskop elektron. Karena itulah keberadaan virus baru diketahui pada pertengahan abad ke 20. Semua virus memiliki sifat yang khas, yakni memerlukan inang untuk dapat berkembang biak. Artinya virus harus menginfeksi organisme lain untuk dijadikan medium perkembang biakannya. Organisme lain itu tidak harus organisme besar seperti manusia atau binatang, tapi bisa juga bakteri atau mikro-organisme lainnya. Di alam bebas, banyak virus yang dalam waktu singkat akan mati. Jadi sebetulnya virus memerlukan inang yang berumur panjang, agar eksistensinya juga tetap bertahan.

Namun yang juga membingungkan para pakar virologi, terdapat jenis virus tertentu yang justru membunuh dengan cepat inangnya, seperti virus Ebola atau virus flu burung. Sejauh ini, fokus utama penelitian para pakar virologi adalah mencari strategi untuk mencegah atau memerangi dampak memicu munculnya penyakit dari serangan virus. Belakangan ini juga diketahui, banyak virus yang berdampak sebaliknya, yaitu tidak memicu penyakit tapi justru mendukung kesehatan atau penyembuhan penyakit. Dewasa ini para pakar virologi terus melakukan penelitian secara simultan, untuk memerangi penyakit akibat virus sekaligus memanfaatkan virus untuk menyembuhkan penyakit.

Virus adalah medium kerja sehari-hari dari Martina Friesland, asisten biologi teknis di bagian virologi percobaan lembaga penelitian Twincore di kota Hannover Jerman. Dengan berkelakar Friesland mengatakan, binatang-binatang peliharaannya itu adalah virus penyakit Hepatitis C, yang pada manusia dapat memicu penyakit sirosis hati yang mematikan. Sirosis pada hati adalah stadium lanjut serangan virus Hepatitis C berupa luka parut yang membuat jaringan hati menciut dan mengeras. Jika penyakit Hepatitis C sudah sampai ke stadium ini amat sulit penyembuhannya.

Hingga kini, penanganan virus Hepatitis C tetap menuntut kehati-hatian tinggi. Terutama di laboratorium, di mana dilakukan penelitian dengan menggunakan virus Hepatitis C sebagai mediumnya, diterapkan aturan keselamatan kerja amat ketat.

Nama virus mula-mula diperkenalkan oleh Aulus Cornelius Celsus penulis ensiklopedi kedokteran di zaman Romawi yang hidup di abad pertama sebelum Masehi. Ketika itu virus yang artinya racun digunakan sebagai istilah bagi air liur anjing yang terinfeksi penyakit rabies. Namun yang diakui sebagai bapak virologi modern adalah Prof. Dimitri Iwanowski pakar botani dari akademi ilmu pengetahuan St.Petersburg di Rusia. Pada tahun 1892 ia meneliti penyakit mosaik pada tanaman tembakau, yang ia duga akibat infeksi bakteri. Tapi itulah infeksi virus pertama yang ditemukan secara ilmiah.

Di abad lalu penyakit infeksi virus seperti cacar, polio atau demam kuning selalu menjadi wabah mematikan. Namun dengan ditemukannya metode vaksinasi, hampir seluruh penyakitnya dapat dieradikasi. Tapi virus penyebab AIDS, influenza atau Hepatitis C juga memiliki varian amat beragam dan amat mudah melakukan mutasi. Karenanya para pakar virologi harus terus berjuang keras untuk menghadapi penyakit infeksi yang ditumbulkannya.

Dewasa ini, lembaga penelitian Twincore di Hannover bekerjasama dengan lembaga riset Universitas Hannover dan pusat penelitian penyakit infeksi Helmholtz terus melakukan penelitian intensif virus Hepatitis C. Pemicunya adalah temuan para peneliti virologi di Jepang, yang berhasil mengembangbiakan virus Hepatitis C yang mudah mati jika berada di luar tubuh inangnya, di dalam tabung reaksi di laboratorium. Dengan begitu, virus yang amat berbahaya bagi manusia itu sekarang dapat dikembangbiakkan secara massal untuk tujuan penelitian.

Selain itu penelitian juga difokuskan pada pertanyaan, mengapa sekitar 20 persen manusia yang terbukti terinfeksi virus Hepatitis C tidak mengalami masalah dengan kesehatannya. Sedangkan sekitar 80 persennya mengembangkan penyakit kronis yang dapat memicu terbentuknya sirosis hati atau kanker hati yang mematikan. Saat ini, di Jerman saja tercatat 400.000 orang yang terinfeksi virus Hepatitis C.

Prof. Thomas Pietschmann dari lembaga penelitian Twincore memperkirakan, anomali pada sekitar 20 persen orang yang terinfeksi virus Hepatitis C tapi tidak menunjukkan gejala sakit itu terletak pada sistem kekebalan tubuhnya. Dengan itu, kini juga dilakukan penelitian intensif terhadap kelompok anomali itu, dengan harapan suatu hari nanti dapat ditemukan obat ampuh untuk mengobati penyakit Hepatitis C.

Engel Michael/Agus Setiawan
Editor: Yuniman Farid
www.dw-world.de

Tidak ada komentar: